bekasikini.com/, Jakarta — Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai peta industri halal global. Dalam pidatonya, ia menyampaikan bahwa tiga negara dengan pendapatan halal terbesar bukan berasal dari negara mayoritas muslim, melainkan Cina, Brazil, dan Amerika Serikat.
Menurut Babeh Haikal, dominasi tiga negara tersebut menunjukkan bahwa industri halal bukan lagi isu keagamaan semata, tetapi telah menjadi peluang ekonomi yang dibidik serius oleh negara-negara dengan kekuatan produksi global.
“Negara nomor satu pendapatan halal tertinggi adalah Cina, nomor dua Brazil, nomor tiga Amerika,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Cina menjadi pemain utama karena agresif memproduksi barang yang memenuhi standar halal internasional. Produk-produk Cina, mulai dari makanan, minuman, peralatan rumah tangga, hingga tekstil, mendominasi pasar negara-negara Teluk, Afrika, dan Asia Tenggara.
“Di Mekah itu, hampir semua barang dari Cina. Makanan, minuman, karpet — kecuali Ka’bah,” kata Babeh Haikal.
Sementara itu, Brazil menempati posisi kedua sebagai pemasok daging halal terbesar dunia. Negara tersebut menguasai pasar daging sapi dan ayam di Timur Tengah, Turki, bahkan negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia.
“Teman-teman dari Malaysia dan Singapura bilang, hampir semua daging di negara mereka berasal dari Brazil,” ujarnya, Jumat (21/11/2025).
Amerika Serikat berada di posisi ketiga dengan pendekatan yang berbeda. Industri halal di Amerika memfokuskan diri pada segmen premium karena masyarakat global melihat produk halal sebagai simbol kualitas tinggi dan keamanan komposisi.
Babeh Haikal menekankan bahwa fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia harus bergerak cepat dan mengambil peran dalam rantai pasok halal global. Menurutnya, posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar belum cukup jika tidak dibarengi dengan kekuatan produksi.
“Kalau kita hanya jadi pasar, kita tidak dapat apa-apa. Kita harus ikut menjadi produsen besar,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dominasi tiga negara non-muslim itu seharusnya menjadi dorongan bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem halal nasional, mulai dari standar produksi hingga sertifikasi.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar karena memiliki sumber daya manusia dan industri yang luas, namun membutuhkan percepatan dalam inovasi dan regulasi.
“Negara lain sudah melihat halal sebagai mesin ekonomi. Indonesia jangan tertinggal,” tegasnya.
Babeh Haikal mengajak pemerintah daerah, industri, dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran bahwa produk halal bukan hanya dibutuhkan oleh umat muslim, melainkan oleh konsumen global yang mengutamakan standar kesehatan dan kualitas.






